MusikVoid
News Rock Alternatif

"Jahanam", Saat Black Horses Menemukan Suara yang Lebih Dekat dengan Indonesia

Cristoph Adam Sugianto Cristoph Adam Sugianto · MusikVoid 03 Jun 2026 3 min read
"Jahanam", Saat Black Horses Menemukan Suara yang Lebih Dekat dengan Indonesia

Black Horses membuka babak baru lewat album Jahanam, rilisan pertama mereka yang sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia dengan lirik satir dan energi rock yang tetap garang.

Setelah bertahun-tahun dikenal lewat dentuman classic rock berenergi tinggi dan lirik berbahasa Inggris, Black Horses akhirnya mengambil langkah yang mungkin menjadi keputusan paling penting dalam perjalanan karier mereka. Pada 15 Mei 2026, band rock asal Jakarta itu resmi merilis album ketiga bertajuk Jahanam melalui Firefly Records, subsidiary dari Musica Studios.

Namun, yang membuat album ini menarik bukan hanya karena menjadi rilisan terbaru mereka. Jahanam menandai perubahan besar dalam identitas Black Horses: untuk pertama kalinya seluruh lagu ditulis menggunakan bahasa Indonesia.

Keputusan tersebut bukan sekadar pergantian bahasa. Bagi Black Horses, ini adalah cara baru untuk berbicara lebih dekat dengan realitas yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Bassist Lucky Azhary menyebut Jahanam sebagai penanda zaman. Sebuah karya yang lahir dari pengalaman hidup di Indonesia, dengan segala dinamika sosial, keresahan, hingga ironi yang menyertainya.

Perubahan itu terasa sejak lagu-lagu pembuka album. Black Horses masih memainkan rock yang keras, mentah, dan penuh tenaga, tetapi kali ini pesan yang mereka sampaikan terdengar lebih jelas. Tidak ada lagi jarak bahasa yang memisahkan antara band dan pendengarnya.

Album ini diproduseri oleh John Paul Patton atau Coki, sosok yang dikenal lewat Kelompok Penerbang Roket dan berbagai proyek lintas skena independen. Kehadirannya membawa warna baru dalam proses kreatif Black Horses. Di bawah arahannya, band ini terdengar lebih fokus secara konseptual tanpa kehilangan karakter liar yang selama ini menjadi ciri khas mereka.

Hasilnya adalah sembilan lagu yang memadukan riff-riff klasik rock dengan lirik satir yang tajam. Black Horses berbicara tentang manusia, kekuasaan, waktu, hingga berbagai paradoks kehidupan modern, namun tanpa harus mengandalkan kata-kata kasar atau provokasi berlebihan.

Vokalis Oscario bahkan menegaskan bahwa untuk menjadi "jahanam", seseorang tidak harus menggunakan bahasa yang kotor. Justru melalui pilihan kata yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian, kritik yang mereka sampaikan terasa lebih mengena.

Beberapa lagu yang lebih dulu diperkenalkan seperti "Tirani Tua" dan "Distorsi Menggema" menjadi fondasi yang memperlihatkan arah baru band ini. Sementara itu, "Jejak Waktu" muncul sebagai salah satu lagu yang paling menonjol setelah album dirilis. Lagu tersebut menawarkan sisi yang lebih reflektif di tengah dominasi energi rock yang meledak-ledak sepanjang album.

 

Selain Jejak Waktu, album ini juga memuat lagu-lagu seperti "Manusia Setengah Kuda", "Makan Tuan", "Jahanam Mawar Api", "Berkurang di Neraka", dan "Peduli Setan". Judul-judul yang sejak awal sudah menunjukkan kecenderungan Black Horses untuk bermain dengan simbol, sindiran, dan kritik sosial.

Secara musikal, Jahanam tetap mempertahankan semangat live band yang menjadi kekuatan utama mereka. Suara gitar yang kasar, ritme yang padat, serta permainan yang terasa organik membuat album ini terdengar seperti sebuah pertunjukan yang direkam apa adanya. Ada kesan "kotor", tetapi justru di situlah daya tariknya.

Di tengah tren produksi musik yang semakin rapi dan steril, Black Horses memilih jalur berbeda. Mereka mempertahankan ketidaksempurnaan yang membuat musik rock terasa hidup.

Lewat Jahanam, Black Horses bukan sedang meninggalkan identitas lama mereka. Sebaliknya, mereka sedang memperluasnya. Bahasa Indonesia memberi ruang yang lebih besar untuk menyampaikan gagasan, sementara karakter rock yang garang tetap menjadi fondasi utama.

Album ini terasa seperti bukti bahwa band yang telah melewati dua album sebelumnya masih memiliki keberanian untuk bereksperimen. Dan bagi para Kusir, sebutan untuk penggemar Black Horses, Jahanam mungkin bukan hanya album baru, melainkan awal dari babak yang sama sekali berbeda.

Dengan lirik yang lebih dekat, kritik yang lebih tajam, dan energi yang tetap membara, Black Horses menunjukkan bahwa rock Indonesia masih memiliki cara baru untuk berbicara kepada zamannya.

musikvoid news black horses jahanam classic rock
Bagikan artikel
Cristoph Adam Sugianto

Cristoph Adam Sugianto

Musikvoid news writer.

Artikel lainnya