MusikVoid
Culture

Tarian Dero: Tradisi Kebersamaan dari Sulawesi yang Tetap Hidup di Tengah Generasi Muda

Cristoph Adam Sugianto Cristoph Adam Sugianto · MusikVoid 02 Jun 2026 4 min read
Tarian Dero: Tradisi Kebersamaan dari Sulawesi yang Tetap Hidup di Tengah Generasi Muda

Tarian Dero bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Sulawesi Tengah yang tetap relevan serta dicintai generasi muda hingga kini.

Di tengah derasnya arus budaya populer dan tren digital, ada satu tradisi dari Sulawesi yang justru terus bertahan dan bahkan semakin diminati oleh generasi muda: Tarian Dero.

Belakangan, Dero kembali menjadi perbincangan di media sosial. Potongan video yang memperlihatkan sekumpulan anak muda menari bersama dalam lingkaran besar memancing beragam komentar. Ada yang mengagumi semangat kebersamaannya, namun tidak sedikit pula yang memberikan cibiran dan menilai kegiatan tersebut secara negatif tanpa memahami konteks budayanya.

Padahal, di balik keramaian dan kemeriahannya, Dero menyimpan makna sosial yang sangat dalam.

Apa Itu Tarian Dero?

Dero merupakan tarian tradisional masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya yang berkembang di wilayah Kabupaten Poso dan beberapa daerah di sekitarnya.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran besar. Para peserta bergandengan tangan atau saling berpegangan sambil mengikuti irama musik yang dimainkan secara berulang. Gerakannya relatif sederhana sehingga siapa pun dapat ikut serta, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda.

Berbeda dengan banyak tarian tradisional yang bersifat pertunjukan, Dero sejak awal memang dirancang sebagai tarian partisipatif. Artinya, semua orang dapat terlibat langsung, bukan hanya menjadi penonton.

Makna Asli Dero: Simbol Persatuan dan Kebersamaan

Dalam tradisi masyarakat setempat, Dero bukan sekadar hiburan.

Lingkaran yang terbentuk dalam tarian ini melambangkan kesetaraan. Tidak ada posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua orang berada dalam satu barisan yang sama, bergerak mengikuti ritme yang sama.

Dero sering digelar setelah panen, perayaan adat, pesta rakyat, acara pernikahan, hingga acara syukuran sebagai simbol rasa terima kasih dan kebersamaan antarwarga.

Di masa lalu, tarian ini juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kampung. Melalui Dero, hubungan sosial diperkuat, konflik dapat diredakan, dan rasa persaudaraan dibangun secara alami.

Nilai-nilai tersebut masih relevan hingga hari ini, terutama di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.

Mengapa Generasi Muda Masih Sangat Antusias?

Banyak orang luar daerah merasa heran mengapa Dero tetap mampu menarik anak muda di era media sosial.

Jawabannya justru sederhana. Dero memberikan sesuatu yang mulai langka: interaksi sosial secara langsung.

Ketika sebagian besar komunikasi berlangsung melalui layar ponsel, Dero menghadirkan pengalaman nyata untuk bertemu, berbincang, tertawa, dan menikmati kebersamaan dalam satu ruang fisik.

Bagi generasi muda Sulawesi Tengah, mengikuti Dero bukan hanya soal melestarikan budaya. Ada rasa identitas dan kebanggaan daerah yang ikut tumbuh.

Selain itu, Dero juga memiliki sifat yang inklusif. Tidak diperlukan kemampuan menari profesional. Siapa saja bisa bergabung dalam hitungan menit. Faktor inilah yang membuat tradisi tersebut tetap terasa relevan dan tidak berjarak dengan generasi baru.

Di banyak daerah, acara Dero bahkan berkembang menjadi bagian dari festival budaya yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.

Ketika Dero Menjadi Sasaran Cibiran di Media Sosial

Dalam beberapa tahun terakhir, video-video Dero sering viral di berbagai platform media sosial.

Sayangnya, tidak semua respons yang muncul bersifat positif.

Sebagian netizen menilai Dero hanya sebagai ajang mencari pasangan, bahkan ada yang memberikan stereotip negatif terhadap peserta yang hadir. Potongan video pendek yang beredar sering kali diambil tanpa konteks budaya yang utuh, sehingga memunculkan kesalahpahaman.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada Dero. Banyak tradisi lokal di Indonesia yang kerap dinilai menggunakan sudut pandang luar tanpa memahami sejarah maupun fungsi sosialnya.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, hampir semua budaya memiliki ruang pergaulan sosial yang serupa. Bedanya, Dero masih mempertahankan bentuk tradisionalnya sehingga terlihat unik bagi masyarakat di luar Sulawesi.

Apakah Ada yang Salah?

Yang sering kali salah bukanlah tradisinya, melainkan cara kita melihatnya.

Media sosial cenderung menampilkan potongan-potongan momen tanpa latar belakang yang memadai. Akibatnya, publik lebih mudah menilai daripada memahami.

Ketika sebuah budaya direduksi hanya menjadi cuplikan video beberapa detik, makna historis, sosial, dan nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya dapat hilang begitu saja.

Dero bukan tradisi yang sempurna, sebagaimana tidak ada budaya yang benar-benar sempurna. Namun menilai keseluruhan warisan budaya hanya dari potongan konten viral tentu bukan pendekatan yang adil.

Dero Sebagai Ruang Sosial yang Masih Relevan

Di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai berkurangnya interaksi sosial langsung pada generasi muda, Dero justru menunjukkan bahwa tradisi lokal masih mampu menjadi perekat komunitas.

Tarian ini mempertemukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda dalam suasana yang santai dan egaliter. Ia menjadi ruang untuk membangun pertemanan, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjaga hubungan antargenerasi.

Mungkin inilah alasan terbesar mengapa Dero masih bertahan hingga sekarang.

Bukan karena sekadar menjadi tontonan yang viral, melainkan karena masyarakat yang menjaganya masih merasakan manfaat sosial yang nyata.

Di saat banyak tradisi perlahan menghilang, Dero menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tetap hidup jika mampu memberikan makna bagi generasi yang mewarisinya. Dan selama nilai kebersamaan itu masih dirasakan, lingkaran Dero kemungkinan akan terus berputar untuk waktu yang lama.

musikvoid news Dero sulawesi poso budaya tarian dero budaya indonesia
Bagikan artikel
Cristoph Adam Sugianto

Cristoph Adam Sugianto

Musikvoid news writer.

Artikel lainnya