Musisi-musisi Jawa telah mengadopsi nama kota atau daerah dalam lagu mereka sejak era campursari Manthous dan Didi Kempot hingga generasi penyanyi kekinian Denny Caknan, Guyon Waton, Ndarboy Genk dan NDX AKA.
Karya musik Jawa memiliki ciri khas yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satu ciri yang sering kali kita lihat adalah penggunaan nama kota atau daerah dalam judul dan lirik lagunya.
Pola ini telah diadaptasi sejak era penyanyi campursari klasik modern Manthous dan Didi Kempot hingga generasi penyanyi modern Denny Caknan dkk.
Bagi penikmat musik Jawa, nama kota dalam lagu bukan sekadar penanda lokasi. Kota atau daerah menjadi simbol kenangan, asmara, hingga identitas budaya. Karya-karya ini yang pada akhirnya memunculkan kedekatan emosional dengan para pendengarnya.
Sosok Didi Kempot menjadi musisi Jawa yang paling ulung menempatkan nama kota atau daerah dalam judul dan lirik lagunya.
Karya-karyanya jauh melampaui musisi Jawa lain soal lagu bertema kota atau daerah. Belasan lagu ia ciptakan dan banyak yang menjadi hits, di antaranya "Stasiun Balapan", "Tanjung Mas" dan "Perawan Kalimantan".
The Godfather of Broken Heart bahkan mencipatakan lagu lintas negara yang mengangkat nama salah satu wilayah di Negara Suriname, yaitu "Kangen Neng Nickerie".
Cara menulis lagu ini juga diikuti musisi-musisi Jawa kekinian seperti Denny Caknan, Guyon Waton, Ndarboy Genk dan NDX AKA.
Denny Caknan naik daun dengan lagu Jawa pertamamya yang lagsung menjadi hits "Kartonyono Medot Janji". Guyon Waton menelurkan lagu "Ninggal Cerito (Purwokerto)". Ndarboy sukses besar dengan "Koyo Jogja Istimewa". Sementara NDX mengutip "Terminal Giwangan" dalam karyanya dengan judul lagu yang sama.
Teruslah berkarya musisi Jawa.