MusikVoid
News Rock Alternatif

ASHN Jelajahi Sisi Gelap di Album Debut Waves in Two

CA Cristoph Adam Sugianto · MusikVoid 16 Jun 2026 3 min read
ASHN Jelajahi Sisi Gelap di Album Debut Waves in Two

Melalui album debut Waves in Two, ASHN merangkai shoegaze, alternative rock, dan dream pop menjadi perjalanan emosional yang penuh kabut suara dan melodi menghanyutkan. Hasilnya adalah eksplorasi tentang keraguan, kehilangan, dan harapan yang terasa intim sekaligus sinematik.

Ada album yang dibuat untuk didengar. Ada pula album yang terasa seperti tempat untuk tenggelam. Waves in Two milik ASHN tampaknya berada di kategori kedua.

Lewat debut penuh yang dirilis pada 3 Oktober 2025, unit shoegaze dan alternative rock asal Bandung tersebut mengajak pendengar memasuki ruang yang dipenuhi gema gitar, lapisan suara berkabut, serta emosi yang bergerak di antara keraguan dan harapan. Sebuah dunia yang terasa asing sekaligus akrab bagi siapa pun yang pernah berhadapan dengan kegelisahan dalam dirinya sendiri.

Waves in Two hadir setelah perjalanan yang tidak sepenuhnya mulus. ASHN, yang terbentuk pada 2022 dari lingkaran musisi yang sebelumnya terlibat dalam Puremoon, sempat merilis EP self-titled sebelum akhirnya memasuki masa hening yang berlangsung hampir tiga tahun.

Ketika banyak band memilih menghilang setelah jeda panjang, ASHN justru kembali dengan arah yang lebih jelas. Maxi single Falling, Fading / In Circles yang dirilis pada awal 2025 menjadi sinyal awal bahwa mereka belum selesai. Kini, sinyal tersebut berkembang menjadi album penuh berisi sepuluh lagu yang terasa seperti peta emosi dari berbagai fase kehidupan.

Alih-alih menawarkan koleksi lagu yang berdiri sendiri, Waves in Two terdengar seperti satu perjalanan utuh. Setiap trek seolah menjadi bagian dari narasi yang saling terhubung, membawa pendengar menyusuri perasaan kehilangan, kebingungan, harapan, hingga penerimaan.

Kekuatan terbesar ASHN terletak pada kemampuannya membangun atmosfer. Mereka tidak terburu-buru menuju klimaks. Sebaliknya, lagu-lagu dalam album ini perlahan membuka ruang, membiarkan lapisan demi lapisan suara berkembang sebelum akhirnya menyelimuti pendengar sepenuhnya.

Pengaruh shoegaze menjadi fondasi utama, tetapi ASHN tidak membatasi dirinya pada satu warna. Alternative rock, dream pop, sentuhan elektronik, hingga tekstur grunge muncul secara alami tanpa terdengar dipaksakan. Hasilnya adalah lanskap suara yang luas, dinamis, dan penuh detail.

Di satu momen, pendengar disuguhi gitar-gitar yang berputar seperti kabut tebal. Di momen lain, melodi vokal muncul membawa secercah cahaya di tengah suasana yang muram. Perpaduan tersebut membentuk identitas yang terasa personal sekaligus sinematik.

Album ini juga menjadi panggung bagi lima personel muda ASHN untuk menunjukkan chemistry mereka. Bryan Arkan dan Bryan Popon Pongtiku membangun tembok suara yang kokoh lewat permainan gitar berlapis. Nafisa Almira menghadirkan karakter vokal yang mampu bergerak dari rapuh hingga menghantui. Sementara Rafi Azani dan Irfan Al Hafizh menjaga fondasi ritmis yang membuat seluruh komposisi tetap bernapas.

Meski berakar pada estetika shoegaze, Waves in Two tidak hanya mengandalkan distorsi dan atmosfer. Album ini memiliki inti emosional yang kuat. Di balik lapisan efek dan tekstur suara, terdapat cerita tentang manusia yang berusaha memahami dirinya sendiri saat dunia di sekitarnya terasa semakin tidak pasti.

Mungkin itulah alasan mengapa album ini terasa begitu hidup. ASHN tidak mencoba menjadi band shoegaze yang sekadar terdengar indah. Mereka berusaha menangkap perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, lalu menerjemahkannya menjadi gelombang suara yang terus bergerak sepanjang empat puluh menit durasi album.

Dengan Waves in Two, ASHN tidak hanya menandai berakhirnya masa hiatus mereka. Album ini sekaligus menjadi deklarasi bahwa generasi baru shoegaze Indonesia memiliki keberanian untuk mengeksplorasi wilayah emosional yang lebih dalam dan lebih personal.

Bagi pendengar yang menyukai musik atmosferik dengan muatan emosi yang kuat, Waves in Two adalah perjalanan yang layak untuk dijalani dari awal hingga akhir.

Rock musikvoid news alternative ashn shoegaze
Bagikan artikel
CA

Cristoph Adam Sugianto

Musikvoid news writer.

Artikel lainnya