Band grunge asal Kediri, Orkes Para Mutan, resmi membuka perjalanan musik mereka melalui single debut “Jumatan”, lagu ringan yang mengangkat tema kewajiban salat Jumat dengan pendekatan santai dan dekat dengan keseharian.
Unit grunge asal Kediri, Orkes Para Mutan, resmi memperkenalkan diri ke publik lewat single debut bertajuk "Jumatan" yang dirilis pada 15 Mei 2026. Lagu ini menjadi langkah awal perjalanan mereka di skena musik independen sekaligus pembuka menuju album perdana yang telah mereka siapkan.
Sesuai judulnya, "Jumatan" mengangkat tema yang sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kewajiban salat Jumat. Alih-alih menyampaikannya dengan pendekatan yang berat, Orkes Para Mutan memilih jalur yang santai, lugas, dan penuh nuansa tongkrongan, membuat pesan dalam lagu terasa akrab bagi pendengarnya.
Secara musikal, "Jumatan" dibalut warna grunge yang menjadi identitas utama band ini. Proses produksinya ditangani oleh Jablongningrat yang juga bertugas sebagai arranger, mixing engineer, sekaligus mastering engineer. Lagu ini turut melibatkan Iga Dahana dari IGMO sebagai pengisi vokal tambahan.
Karakter musik Orkes Para Mutan lahir dari kebiasaan sederhana para personelnya yang kerap berkumpul di warung kopi, berbagi cerita, dan menciptakan lagu bersama. Suasana tersebut tercermin dalam "Jumatan", yang terdengar apa adanya tanpa kehilangan energi khas musik grunge.
Single ini juga menjadi gerbang menuju album debut mereka yang diberi judul "Problemadtiq". Menariknya, seluruh proses pengerjaan album dilakukan secara mandiri di studio milik mereka sendiri yang diberi nama Laboratorium Para Mutan, sebuah ruang kreatif yang berlokasi di Kediri.
Semangat independen menjadi salah satu ciri utama perjalanan Orkes Para Mutan. Mereka mengungkapkan bahwa proses produksi album banyak terbantu oleh dukungan komunitas dan lingkar pertemanan melalui skema crowdfunding sederhana. Mulai dari penjualan merchandise hingga dukungan langsung dari orang-orang terdekat menjadi bahan bakar utama yang memungkinkan album tersebut terwujud.
Pendekatan tersebut membuat "Problemadtiq" terasa sangat personal bagi band ini. Bukan hanya karena seluruh proses kreatif dilakukan sendiri, tetapi juga karena album tersebut lahir dari semangat gotong royong para pendukung mereka.
Meski baru merilis karya perdana, Orkes Para Mutan sudah menunjukkan identitas yang cukup jelas. Mereka tidak berusaha tampil rumit atau terlalu serius, melainkan menawarkan musik yang lahir dari keseharian, pertemanan, dan keresahan sederhana yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
Dengan "Jumatan", Orkes Para Mutan membuka babak baru perjalanan mereka di skena musik independen Indonesia. Debut ini menjadi perkenalan yang unik sekaligus menunjukkan bahwa tema-tema sederhana pun dapat dikemas menjadi karya yang menarik ketika disampaikan dengan jujur dan apa adanya.