Rotti Mari kembali dengan EP trilogy "Resiliensi", sebuah karya yang merangkum perjalanan emosional manusia dari keraguan, kegelisahan, hingga penerimaan diri. Melalui tiga lagu yang saling terhubung, band modern pop-punk/emo asal Yogyakarta ini menghadirkan kisah tentang kemampuan bertahan dan bangkit dari keterpurukan.
Band modern pop-punk/emo asal Yogyakarta, Rotti Mari, resmi merilis EP trilogy terbaru bertajuk "Resiliensi". Melalui rilisan ini, mereka menghadirkan sebuah narasi emosional yang menggambarkan perjalanan seseorang dalam menghadapi tekanan hidup, keraguan, hingga menemukan kekuatan untuk bangkit kembali.
Tidak sekadar menjadi kumpulan lagu, "Resiliensi" dirancang sebagai sebuah cerita yang utuh. Tiga lagu yang terdapat di dalamnya saling terhubung dan membentuk alur perjalanan emosional yang relevan dengan pengalaman banyak orang. Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana seseorang berproses menghadapi berbagai tantangan hidup yang datang silih berganti.
EP ini terdiri dari tiga lagu, yakni "Makna", "Cerita Ketika.?", dan "Jera". Masing-masing lagu merepresentasikan fase berbeda dalam perjalanan tersebut.
"Makna" menggambarkan fase awal ketika seseorang mulai berhadapan dengan keraguan dan ketidakpastian. Lagu ini berbicara tentang upaya untuk tetap melangkah meski berbagai pertanyaan dan rasa takut terus menghantui.
Perjalanan kemudian berlanjut melalui "Cerita Ketika.?", yang mengangkat kegelisahan terhadap waktu dan masa depan. Pada fase ini, tekanan hidup, ekspektasi, dan kebingungan menjadi tema utama yang mewarnai perjalanan emosional sang tokoh.
Sementara itu, "Jera" menjadi penutup yang merepresentasikan proses penerimaan diri setelah melewati berbagai kegagalan dan kekecewaan. Lagu ini menjadi simbol kedewasaan emosional sekaligus titik di mana seseorang menemukan kekuatan untuk kembali berdiri dan melanjutkan hidup.
Melalui EP ini, Rotti Mari mencoba menyampaikan bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bertahan di tengah situasi sulit. Pesan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh lagu dalam EP ini.
Rotti Mari sendiri merupakan band pop-punk/easycore asal Yogyakarta yang telah aktif sejak 2014. Selama lebih dari satu dekade, mereka konsisten menghadirkan karya-karya yang memadukan energi khas pop-punk dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Band ini diperkuat oleh Rizky Hida, Syabnasun Arrazy, Sulishtyo D’arpito, Andjas Darmawan, Ganang Lukito, dan Septian Herlan. Dalam perjalanan kariernya, mereka dikenal sebagai salah satu nama yang terus menjaga eksistensi skena pop-punk independen Indonesia.
Sebelum merilis "Resiliensi", Rotti Mari lebih dahulu memperkenalkan mini album "Hari Baru" pada 2024. Rilisan tersebut mengangkat kisah tentang perjalanan seseorang menghadapi cinta, kehilangan, dan proses menerima kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Kehadiran EP trilogy "Resiliensi" memperlihatkan perkembangan musikal sekaligus kedewasaan penulisan tema yang diusung Rotti Mari. Dengan tetap mempertahankan karakter modern pop-punk/emo yang menjadi identitas mereka, band ini menghadirkan karya yang tidak hanya enerjik, tetapi juga sarat makna dan refleksi.
Melalui tiga lagu yang saling terhubung, Rotti Mari mengajak pendengar untuk memahami bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, setiap kegagalan dan luka dapat menjadi bagian penting dalam proses tumbuh dan menemukan kekuatan baru untuk melangkah.